Kira’s POV

Sesuai janji dengan Kak Anggun, pukul dua belas kurang lima gue bergegas menutup laptop dan meninggalkan meja. Gue berjalan pelan ke arah lift, sesekali melirik beberapa pekerja lainnya yang sedang serius mengetik di laptop.

Waktu langkah gue hampir dekat dengan lift, gue sudah bisa mendengar samar-samar percakapan orang-orang. Gue asumsikan itu teman makan siang Kak Anggun yang katanya mau dikenalkan pada gue. Pas banget gue berbelok ke kiri, gue hampir menabrak punggung orang—untungnya nggak jadi—yang tegap dan lebih tinggi dari gue. Awalnya gue kaget, begitupun yang lain. Namun, begitu orang itu memutar badannya ke arah gue. Gue cuma bisa melotot dan mengerutkan alis kecil. Itu Hiro—mantan gue yang sekarang sekantor sama gue.

Sorry, lo gapapa?” Tanyanya seakan kita dua manusia asing yang nggak pernah saling say—nggak perlu gue bahas lah bagian ini.

Sesuai dengan kesepakatan gue dengan dia, kita harus bersikap selayaknya teman aja. Jadi gue segera mengangguk dan memberi senyum tipis. “Gapapa Kak,” ujar gue menenangkan. Nggak lama setelah itu, pintu lift terbuka dan kami semua berbondong masuk ke kotak besi itu.

Lift ini berhenti di beberapa lantai sampai membuat kami yang ada di dalam harus berdiri sedemikian rupa supaya muat menampung manusia dari lantai lain. Beberapa orang berdiri saling berhadapan—canggung banget kan tuh. Nah, gue pun nggak kalah canggung. Karena gue berdiri tepat di sebelah mantan gue—Daniel Hiro. Hiro berdiri di sisi kanan gue. Sementara itu, ada Ozil si teman magang satu divisi yang tadi pagi baru gue kenal berdiri di sisi kiri. Ozil melempar sebuah pertanyaan dengan suara kecil.

“Lo ngekos apa tinggal sama ortu, Ra?” tanyanya dengan suara pelan.

“Kebetulan ngekos sih,” jawab gue menyamakan volume suaranya. Lalu, tubuh gue bereaksi menegang tepat setelah menjawab itu. Bukan karena gue liat hantu, tapi lelaki di sebelah kanan gue tiba-tiba menautkan jari kelingkingnya di jari gue.

Anjir, kamu ngapain sih Ro?!

Protes itu gue layangkan lewat tatapan tajam sambil melirik Hiro yang ternyata sibuk ngobrol sama perempuan tinggi dan cantik banget di sebelahnya.

Cantik banget jujur, ini siapa? Pertanyaan itu cuma gue suarakan dalam hati.

Waktu pintu lift perlahan terbuka, Hiro langsung lepas kaitan jarinya. Gue pun segera bergerak pelan ke depan, berusaha keluar dari lift bareng Ozil yang ada di sebelah gue. Butuh waktu tiga menit berjalan kaki buat tiba di sebuah kantin yang mereka sebut sebagai “B2” itu. Waktu sampai di sana, gue masih mengikuti Kak Anggun. Dia kasih tau banyak tenant makanan—termasuk cinta mati gue alias nasi padang—yang worth to try di sana. Of course, menu lunch gue siang itu ya nasi padang.

Selesai pesan, gue dan Kak Anggun menyusuli mereka yang sudah tag meja lebih dahulu. Urutan duduknya acak aja—naasnya gue berhadapan sama Hiro. Gue sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan lelaki itu. Dengan bantuan Kak Anggun, gue berkenalan sama orang-orang di sana. Dari situ, gue jadi tau siapa perempuan yang ngobrol sama Hiro di lift tadi. Namanya Patricia, biasa dipanggil Tricy atau Tris. Doi satu angkatan dengan gue dan lagi magang juga di perusahaan ini sebagai KOL Specialist. Which means, dia satu departemen dengan Hiro.

Suara Bang Hilmi—kalau gue nggak salah ingat orangnya ya—menggelegar begitu tau gue datang dari kampus yang sama dengan Hiro.

“Loh, berarti lo adik tingkatnya Hiro?” Tanyanya.

Gue mengangguk, “iya Bang. Tapi beda jurusan.” Jawaban itu gue buat singkat, padat, dan sejelas mungkin. Supaya mereka nggak bertanya lebih jauh soal gue dan Hiro.

“Lu diem-diem aja, Ro. Ternyata udah kenal toh,” kata Kak Winky. Hiro sendiri cuma bereaksi ala kadarnya. Gue senang lihatnya tapi disatu sisi juga menyimpan sedikit rasa sebal. Karena kok bisa ya Hiro pinter acting?

Sesi perkenalan itu berakhir waktu beberapa pesanan makanan kami datang. Setelahnya, gue masih menunggu pesanan nasi padang gue yang lumayan agak lama siapnya. Sepanjang menunggu, gue sibuk membalas chat dari grup CMS dan juga…Hiro. Orang yang duduk tepat di hadapan gue ini nggak berhenti gangguin gue lewat chat. Pengen banget gue block, tapi melihat balasannya gue jadi sangsi. Kalau Hiro sesantai itu dan cenderung nantangin, artinya gue bakal butuh dia beneran. Dan begitulah sesi makan siang gue terlewatkan. Sayangnya, proyeksi gue akan sesi makan siang kedepannya akan mirip seperti ini. Hiro dan aksi menyebalkannya yang mengganggu ketenangan gue akan terus terjadi.